Anak muda, sudah saatnya mulai cek ulang gaya hidup sendiri. Selama ini, apa saja yang sebenarnya sudah dilakukan untuk menjaga kesehatan? Pertanyaan ini menjadi relevan ketika berbagai penyakit yang dulu dianggap sebagai “penyakit orang tua” kini mulai muncul di usia muda. Salah satunya adalah gagal ginjal, penyakit yang diam-diam mulai menjadi alarm bagi generasi muda. Bahkan, dalam kejadian viral baru-baru ini, seorang pria berusia 20-an sudah terkena gagal ginjal karena keseringan makan mi instan.
Data dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi penyakit ginjal kronis meningkat dari 2% pada 2013 menjadi 3,8% pada 2018, atau setara dengan lebih dari 700 ribu orang. Peningkatan ini tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut, tetapi juga merambah kelompok usia muda. Pada rentang usia 15–24 tahun, prevalensinya mencapai 1,33%; usia 25–34 tahun sebesar 2,28%; dan usia 35–44 tahun mencapai 3,31%.
Tren ini tentu memunculkan kekhawatiran. Pasalnya, usia muda identik dengan masa produktif dalam hidup, masa untuk belajar, bekerja, membangun karier, dan mengejar mimpi. Ketika penyakit seperti gagal ginjal mulai muncul lebih awal, bukan hanya kesehatan yang terancam, melainkan aktivitas sehari-hari, rencana masa depan, hingga harapan hidup yang ingin diraih.
Gagal Ginjal, Penyakit Yang Meresahkan
Secara alami, tiap manusia lahir dengan dua ginjal yang punya peran penting menjaga tubuh tetap “on track”. Organ ini bekerja mengatur keseimbangan cairan tubuh, membantu mengontrol tekanan darah, mengaktifkan vitamin D, memproduksi sel darah merah, hingga menyaring limbah dari darah. Singkatnya, ginjal adalah salah satu sistem penyaring utama yang menjaga tubuh tetap sehat
Dalam dunia medis, gangguan ginjal umumnya dibagi menjadi dua jenis, yakni gagal ginjal akut yang muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya masih bisa pulih jika ditangani dengan cepat dan tepat. Lalu, gagal ginjal kronis, yang berkembang perlahan, biasanya berlangsung lebih dari tiga bulan dan dalam banyak kasus bisa berujung pada kerusakan ginjal permanen.
Gejalanya juga berbeda. Pada gagal ginjal akut, seseorang bisa mengalami mual, kelelahan, kejang, penurunan frekuensi buang air kecil secara tiba-tiba, hingga sesak napas. Sementara pada gagal ginjal kronis, tanda-tandanya sering muncul lebih perlahan, seperti sulit tidur, nafas berbau amonia, tubuh terasa lelah terus-menerus, hilang nafsu makan, hingga pembekakan di area mata.
Karena gejalanya sering dianggap sepele, banyak orang baru menyadarinya ketika kondisinya sudah cukup serius.
Kalau Gitu, Kenapa Itu Terjadi Ya?
Tren ini tidak muncul serta-merta. Salah satu pemicunya adalah gaya hidup yang makin jauh dari pola ideal. Banyak anak muda terbiasa mengkonsumsi makanan tinggi gula, garam, dan makanan ultra-proses yang dirancang kuat dalam rasa, tekstur, dan sering kali bikin ‘nagih’. Ditambah lagi dengan faktor kepraktisan makanan karena mudah didapat, cepat disajikan, dan selalu tersedia di sekitar.
Bukan cuma makanan, minuman juga ikut berperan. Konsumsi minuman manis berperisa, minuman kemasan, hingga energy drink semakin populer di kalangan anak muda, sementara kebiasaan minum air putih justru sering terabaikan. Kombinasi ini secara perlahan bisa memberi tekanan tambahan pada kinerja ginjal.
Di lain sisi, pola hidup yang semakin sedentari, lebih banyak duduk dan minim aktivitas fisik, juga memperbesar risiko. Kurangnya aktivitas tubuh dapat memicu obesitas dan diabetes, dua kondisi yang dikenal sebagai faktor risiko timbulnya penyakit ginjal. Ketika kebiasaan-kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, tubuh sebenarnya sedang mengirimkan sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan perlu adanya perubahan, sebelum dampaknya menjadi parah.
Bagaimana Mencegahnya ?
Sebenarnya, langkah untuk mencegahnya tidaklah rumit, cukup mulai menggeser gaya hidupnya ke arah yang lebih sehat. Masalahnya, niat terkadang berhenti hanya sekadar wacana. Banyak yang tahu apa yang harus dilakukan, tapi hal konsisten masih menjadi tantangan. Karena itu, tren meningkatnya penyakit tersebut haruslah menjadi pengingat bagi anak muda untuk mulai membangun kesadaran diri sejak dini tentang gaya hidup yang sehat.
Salah satu langkah sederhana adalah memperbaiki pola makan secara bertahap, memilih makanan bergizi seimbang dan lebih banyak berbasis pangan alami (real food), terutama nabati. Pendekatan kecil seperti ini bisa menjadi langkah awal untuk perubahan yang besar.
Misalnya, melalui gerakan Meatless Monday, yang mendorong orang untuk memperbanyak konsumsi sayur dan buah, menjaga berat badan yang ideal, serta mengurangi bahkan menghindari makanan ultra proses dan minuman tinggi gula.
Selain itu, penting juga melirik pangan lokal. Bahan pangan lokal biasanya lebih segar, minim proses, dan tidak harus menempuh perjalanan panjang sebelum sampai ke piring makan. Dengan begitu, pilihan makanan tidak hanya lebih sehat bagi tubuh, tetapi juga selaras dengan lingkungan dan sistem pangan yang berkelanjutan.
Referensi
Ariani, R.D. 2024. Tren Gagal Ginjal Usia Muda, apa penyebabnya?
Amartha Empower Article
Halodoc. 2025. Perbedaan Gagal Ginjal Akut dan Kronis, mana yang lebih berbahaya?
Halodoc Article
Halodoc. 2019. Kenapa Manusia Memiliki Dua Ginjal?
Halodoc Article