Home

Story

Eco-Anxiety: Kecemasan Baru Anak Muda di Tengah Krisis Iklim

Eco-Anxiety: Kecemasan Baru Anak Muda di Tengah Krisis Iklim

Home

Story

Eco-Anxiety: Kecemasan Baru Anak Muda di Tengah Krisis Iklim

Eco-Anxiety: Kecemasan Baru Anak Muda di Tengah Krisis Iklim

Di abad ke-21 ini, dampak krisis iklim makin nyata terasa dalam kehidupan sehari-hari. Menurut laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas dalam sejarah, dengan suhu rata-rata global naik 1,55°C di atas tingkat praindustri. Dalam jangka panjang, tren pemanasan global juga terus  antara 1,34 hingga 1,42°C. Hal ini bak bumi yang sedang demam tinggi dan jauh lebih panas daripada dua dekade lalu. 

Artinya, suhu bumi sudah melampaui batas yang disepakati dalam Perjanjian Paris (2015), yang menargetkan agar pemanasan global tidak melebihi 1,5°C dan tetapi berada di bawah 2°C.  

Kenaikan suhu ini membawa banyak dampak, mulai dari perubahan cuaca ekstrem hingga bencana alam yang makin sering terjadi. Di Indonesia misalnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) secara kolektif tercatat sejak 2023 hingga Juli 2025 sudah terjadi lebih dari 10.700 bencana, dengan banjir serta kebakaran hutan dan lahan sebagai kejadian yang paling sering.

Namun, dampak krisis iklim tidak hanya terasa secara fisik. Di sisi lain, muncul juga fenomena psikologis baru, terutama di kalangan anak muda, yang disebut eco-anxiety atau kecemasan ekologis. Istilah ini menggambarkan rasa takut, cemas, dan tidak berdaya yang muncul karena kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan dan masa depan bumi. 

Kecemasan ini menjadi tanda bahwa krisis iklim tidak hanya menyerang alam, tapi juga menyentuh aspek kesehatan mental. Banyak anak muda merasa cemas karena masa depan bumi dirasa tidak pasti, dan ada ketakutan  krisis ini tidak akan cukup untuk mencegah bencana yang lebih besar. 

Kecemasan Ekologis dan Rentannya Anak Muda

Secara sederhana, kecemasan ekologis adalah rasa takut yang terus-menerus terhadap kerusakan lingkungan dan dampak krisis iklim (Panu, 2020). Dalam penelitian (Ardianto et al, 2025) terhadap 165 responden muda di Indonesia, ditemukan bahwa semakin tinggi kesadaran seseorang terhadap krisis iklim, semakin besar pula rasa cemasnya terhadap kondisi lingkungan dan sebaliknya. 

Kecemasan ini menimbulkan berbagai gejala. Menurut penelitian (Hogg et al, 2021), gejalanya dibagi menjadi beberapa kelompok, yakni

  1. Gejala emosional (Afektif), misalnya merasa cemas, takut, sedih, gelisah, atau tegang saat memikirkan kerusakan lingkungan.
  2. Ruminasi, terlalu sering memikirkan masalah lingkungan hingga sulit berhenti. 
  3. Gejala perilaku, seperti sulit tidur, nafsu makan menurun, sulit fokus, motivasi menurun, atau menghindari aktivitas tertentu. 
  4. Kecemasan pribadi, muncul rasa bersalah karena merasa ikut menyumbang kerusakan lingkungan, misalnya saat memakai kendaraan bermotor. 
  5. Gangguan sosial dan psikologis, sulit berinteraksi, performa kerja atau belajar menurun, merasa tidak berdaya, bahkan bisa sampai putus asa. 

Selain itu, anak muda termasuk kelompok yang paling rentan terhadap dampak krisis iklim. Mereka disebut sebagai “pewaris krisis” karena akan hidup paling lama dengan dampak krisis iklim, meskipun bukan mereka yang paling bertanggung jawab atas terjadinya krisis ini (Sanson, A et al, 2021).

Generasi muda juga ikut menanggung akibat dari kesalahan generasi sebelumnya yang terlalu bergantung pada ekonomi ekstraktif (model ekonomi yang banyak mengambil sumber daya alam tanpa memikirkan keberlanjutannya). Di era digital, tekanan ini makin berat karena anak muda terus-menerus terpapar berita negatif tentang krisis iklim yang bisa menimbulkan kelelahan mental. 

Kecemasan ekologis juga berpengaruh pada pilihan hidup anak muda. Ada yang memilih untuk tidak punya anak (Child free) karena khawatir anak mereka nanti hidup di dunia yang rusak akibat krisis iklim. Ada juga yang memilih jalur karir yang lebih ramah lingkungan. Semua ini menunjukkan bahwa anak muda semakin sadar bahwa setiap keputusan mereka, baik kecil atau besar akan berdampak pada masa depan bumi. 

Jalan Keluar Atas Semua Ini

Munculnya kecemasan ekologis membuat anak muda perlu belajar menetapkan batas dan memprioritaskan kesehatan mentalnya. Menurut (Edwards, R et al, 2023), ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghadapinya.

Pertama, cari dukungan sosial, dengan mendengarkan dan memberi ruang aman untuk saling berbagi cerita, agar tidak merasa sendirian menghadapi kecemasan ini.

Kedua, ikuti edukasi lingkungan yang bersifat solutif dan menyebarkan pesan positif, bukan sekadar menambah rasa takut. 

Ketiga, lakukan aksi nyata untuk lingkungan, seperti ikut gerakan Meatless Monday (mengurangi konsumsi daging setiap Senin), yang bisa membantu mengurangi rasa bersalah terhadap dampak pribadi pada bumi. 

Selain itu, penting juga untuk membatasi konsumsi berita atau melakukan digital detox. Terlalu sering melihat konten tentang bencana iklim bisa memperparah kecemasan. Maka, cobalah mengatur waktu layar dan hanya membaca berita dari sumber yang bisa dipercaya, pada waktu tertentu saja. 

Pada akhirnya, fenomena kecemasan ekologis justru bisa menjadi pemicu kepedulian baru di kalangan anak muda. Dari rasa takut, lahir dorongan untuk bertindak, agar generasi mendatang tidak harus menanggung dampak krisis iklim yang lebih parah. Anak muda bisa menjadi generasi yang bukan hanya sadar, tetapi juga bertanggung jawab atas masa depan bumi. 

Jadi, bagaimana dengan kamu? Sudah mulai melakukan aksi kecil untuk iklim hari ini? 

Referensi

Ardianto, B.T., Adiwena, B.Y., & Siswanto. (2025). Concern about the future: Climate change perception predicts eco-anxiety among young generations in Indonesia. Psycho Holistic, 7, (1), 33–42 

Edwards, R., Larson, B., & Clayton, S. (2023). Navigating eco-anxiety and eco-detachment: educators’ strategies for raising environmental awareness given students’ disconnection from nature. Environmental Education Research, 30, 864–880. 

Hogg, T., Stanley, S., O’Brien, L., Wilson, M., & Watsford, C. (2021). The Hogg Eco-Anxiety Scale: Development and Validation of a Multidimensional Scale. Global Environmental Change

Panu, P. (2020). Anxiety and the Ecological Crisis: An Analysis of Eco-Anxiety and Climate Anxiety. Sustainability

Sanson, A., & Bellemo, M. (2021). Children and youth in the climate crisis. BJPsych Bulletin, 45, 205–209. 

Share: