Usia produktif dan tubuh yang masih bugar sering membuat anak muda penuh energi untuk mengeksplorasi banyak hal di dunia. Memang tidak bisa disalahkan, karena hakikatnya anak muda adalah waktunya mengumpulkan pengalaman dan keingintahuan. Namun, kadang di tengah semangatnya, kesehatan justru tak dipandang. Banyak yang terus ngegas aja menjalani aktivitas tanpa benar-benar memperhatikan kondisinya.
Kadang juga mereka berdalih bahwa berbagai penyakit serius hanya merupakan “penyakit orang tua”, sehingga merasa risikonya masih jauh dari kehidupan mereka. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian. Sejumlah penyakit yang dulu identik dengan usia lanjut kini mulai muncul lebih awal, bahkan pada kalangan anak muda.
Jadi, apakah gaya hidup anak muda hari ini sedang membawa mereka ke risiko jantung koroner?
Mengenal Jantung Koroner
Di Indonesia, penyakit jantung koroner (PJK) menempati urutan pertama dari ketujuh penyakit tidak menular (PTM) (Tampubolon dkk., 2023). Bahkan dalam Survei Kesehatan Indonesia (SKI) (2023), diketahui terdapat 877 ribu orang yang terkena PJK dan Jawa Barat menjadi provinsi teratas. Dalam kelompok usia muda, kurang dari 44 tahun sudah banyak terkena PJK, yakni 39%, dan pada kisaran 15–35 tahun sebanyak 22% (Halodoc, 2018).
Melihat data-data ini, PJK tidak boleh disepelekan dan perlu mencari pencegahannya agar masyarakat, khususnya anak muda, tidak lagi terkena hal serupa. Lalu, PJK itu apa sih?
Menurut World Health Organization (WHO), penyakit jantung koroner adalah gangguan pada suplai darah ke otot jantung, sehingga jantung kekurangan darah dan mengalami berbagai manifestasi (Sangadji & Ayu, 2020). Sederhananya, terjadi penyumbatan pada sebagian aliran darah ke jantung. Hal ini karena rusaknya pembuluh darah utama yang memasok darah, oksigen, dan nutrisi ke jantung.
Terdapat dua kelompok faktor yang dapat memicu terjadinya penyakit jantung koroner.
Pertama adalah faktor perilaku atau gaya hidup, seperti pola makan yang tidak sehat, tingkat stres yang tinggi, kebiasaan merokok, serta gaya hidup sedentari atau kurangnya aktivitas fisik (Atika dkk., 2021). Kebiasaan-kebiasaan ini secara perlahan dapat meningkatkan risiko gangguan pada jantung.
Kedua adalah faktor yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan, seperti riwayat penyakit dalam keluarga, pertambahan usia, kondisi sosial, serta perbedaan jenis kelamin (Atika dkk., 2021). Kombinasi dari berbagai faktor tersebut dapat mempengaruhi tingkat risiko seseorang terhadap penyakit jantung koroner.
Gejala yang Diabaikan dan Peran Anak Muda dalam Menjaga Kesehatan
Beberapa ciri-ciri yang dapat diketahui sebelum penyakit ini menjalar kemana-kemana, seperti:
- Tubuh yang mudah lemas secara tiba-tiba atau napas yang terengah-engah setelah melakukan aktivitas fisik ringan yang dilakukan seperti biasa sebelumnya;
- Nyeri dada yang menjalar ke leher atau bahu dan lengan, dirasakan seperti tajam, berat, dan kuat;
- Pusing yang tiba-tiba dan merasakan tidak nyaman, nyeri, atau sesak di dada;
- Sakit pada tenggorokan atau rahang;
- Keringat dingin yang berlebihan secara tiba-tiba;
- Mata berkunang-kunang, dada berdebar, dan lain-lain.
Apabila mengalami gejala-gejala seperti yang telah disebutkan, meskipun masih berusia muda, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan yang lebih lanjut. Deteksi sejak dini sangat penting agar kondisi tersebut dapat ditangani sebelum berkembang menjadi lebih serius.
Peran Kaum Muda dalam Melindungi Kesehatan Mereka
Oleh karena itu, sebagai anak muda, perlu memiliki kesadaran sejak dini dalam menanggulangi hal tersebut. Kesehatan harus menjadi nomor satu dalam gaya hidup, dengan mempertimbangkannya terlebih dahulu apabila memutuskan sesuatu. Sebab, hal ini menjadi garis depan sebelum terjerumus lebih dalam.
Baiknya dapat mengikuti komunitas, perkumpulan, atau organisasi mengenai kesehatan dalam gaya hidup. Dengan begitu, dapat menjadi bahan konsisten untuk terus memperbaiki diri, sebab hal yang bersama-sama akan mudah dilakukan dan jauh dari pandangan malas, terlebih berbagi cerita terkait improvisasi kesehatannya dapat membakar semangat untuk menyesuaikannya.
Usia muda memanglah menjadi tumpuan hidup di masa tua, namun berbeda dengan waktu dahulu dengan sekarang, di mana banyak penyakit-penyakit orang tua sudah menghinggapi anak muda. Sudah barang tentu, fenomena ini menjadi perhatian yang serius agar di masa tuanya tidak sakit-sakitan sejak usia muda.
Referensi
Alodokter. 2024. Kenali ciri penyakit jantung di usia muda sekarang juga!
Alodokter Article
Halodoc. 2018. Masih Muda kok kena jantung koroner?
Halodoc Article
Atika, S.Y., Widiastuti, & Fitriyasti. 2021. Overview of Risk Factors for Coronary Heart Disease Incidence at RSI Siti Rahmah Heart Clinic Padang 2017–2018.
Sangadji, N.W. & Ayu, I.M. 2020. Epidemiology of Coronary Heart Disease Module.
Tampubolon, L.F., Ginting, A., & Saragi Turnip, F.E. 2023. Factors Influencing Coronary Heart Disease Incidence at the Integrated Heart Center.