Di tengah lajunya tantangan pertumbuhan penduduk, ketimpangan akses layanan kesehatan, dan meningkatnya kebutuhan generasi muda akan informasi reproduksi yang akurat, perencanaan keluarga bukan lagi sekadar isu sektoral. Ia adalah fondasi dalam memperkuat pembangunan manusia yang berkelanjutan–sebuah keharusan strategis yang memerlukan respons sistemik dan terkoordinasi.
Untuk memastikan dampak yang nyata dan berkelanjutan, diperlukan penguatan program yang berkelanjutan, berbasis data, berorientasi pada kepemilikan pemerintah kota, dan terintegrasi dalam sistem program Keluarga Berencana (KB) dan Kesehatan Reproduksi (KR) yang sudah ada. Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) bersama Jalin Foundation menghadirkan solusi melalui The Challenge Initiative (TCI) Jalin Indonesia sebagai pendekatan inovatif yang menempatkan pemerintah kota sebagai penggerak utama perubahan, bukan sekedar pelaksana program.
Penguatan Sistem KB dan Kesehatan Reproduksi Perkotaan melalui Program TCI
TCI menerapkan pendekatan berbasis kebutuhan daerah (demand-driven) yang mendorong kepemilikan lokal dan keberlanjutan program KB/KR. Berbeda dengan model top-down yang sering berhenti ketika bantuan eksternal berakhir, TCI dirancang untuk menciptakan perubahan permanen melalui pendampingan teknis intensif dan peningkatan kapasitas pemerintah kota dalam aspek tata kelola, perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan layanan.
Pendekatan ini dijalankan melalui empat pilar strategis yang saling terkait dan menguatkan.
Pilar pertama berfokus pada penguatan kapasitas pemerintah kota dalam perencanaan dan penganggaran program KB. Melalui pilar ini, program KB diintegrasikan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), memastikan bahwa perencanaan keluarga bukan lagi inisiatif sesaat melainkan prioritas pembangunan daerah yang terukur dan berkelanjutan.
Pilar kedua memanfaatkan platform SIGA dan SIRIKA sebagai fondasi pengambilan keputusan berbasis data. Dengan sistem informasi yang terintegrasi, pemerintah kota dapat mengidentifikasi gap layanan secara akurat, memonitor implementasi program secara real-time, dan melakukan evaluasi dampak dengan objektif. Data menjadi kompas yang memandu setiap keputusan strategis.
Sementara itu, pilar ketiga mengintegrasikan pelayanan KB dengan pelayanan kesehatan ibu, agar lebih terpadu. Di saat yang sama, peran puskesmas dan bidan swasta diperkuat untuk menyediakan layanan kontrasepsi yang aman dan berkualitas, menciptakan ekosistem layanan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat
Terakhir, pilar keempat, yang adalah inti dari transformasi TCI, memastikan bahwa program ini benar-benar dimiliki dan dijalankan oleh daerah sendiri, bukan bergantung pada bantuan luar atau pusat. Pendekatan berbasis permintaan, hanya memilih kota-kota yang menunjukkan komitmen politik yang kuat dan tekad untuk berubah lebih baik. Dengan mekanisme ini, program KB terintegrasi ke dalam sistem kerja pemerintah kota dan tetap berkelanjutan, bahkan tanpa dukungan eksternal.
Strategi Kerja TCI dalam Mendukung Perkotaan
Selama satu tahun, TCI bersama Jalin Foundation akan mendampingi kota-kota menuju kemandirian dan dampak yang berkelanjutan. Pendekatan ini berbasis pada permintaan daerah (demand-driven), memungkinkan kota-kota membawa sumber daya manusia dan pendanaan mereka sendiri dengan bantuan teknis yang diperlukan dari TCI. Selanjutnya, pemerintah kota dapat menerapkan program secara mandiri dan berkelanjutan.
TCI berupaya menyederhanakan berbagai praktik dan intervensi yang terbukti efektif agar lebih mudah dan cepat diterapkan di lapangan. Strategi ini memungkinkan program menjangkau lebih banyak masyarakat dan wilayah tanpa mengurangi kualitas dampak, bahkan berpotensi memperluas hasil yang dicapai.
Pendampingan dijalankan melalui model bertahap–lead, assist, dan observe–yang secara gradual mengurangi ketergantungan pada fasilitator eksternal. Pemanfaatan TCI University sebagai platform pembelajaran daring memfasilitasi transfer ilmu, sharing best practices, dan networking antar kota untuk mempercepat pembelajaran kolektif.
Yang paling utama, TCI tidak menciptakan struktur paralel. Sebaliknya, program ini , menyatu dengan sistem pemerintah yang sudah ada. Strategi, pendanaan, dan pendampingan teknis diselaraskan agar penggunaan anggaran lebih efisien, cakupan program lebih luas, dan perubahan dalam sistem kesehatan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Data dimanfaatkan tidak hanya untuk monitoring, tetapi untuk memecahkan masalah dan pengambilan keputusan yang kontekstual dan berbasis bukti.
Sebagai langkah konkret, lokakarya perdana digelar pada 11 Februari 2026 bersama mitra dari Kemendukbangga/BKKBN. Kegiatan ini melibatkan pemangku kepentingan kunci yang berdiskusi untuk menyatukan pandangan dan menentukan area intervensi serta praktik terbaik melalui model pendekatan TCI. Fokus khusus diberikan pada penguatan tata kelola, koordinasi, pengaturan pelayanan KB/KR, serta peningkatan minat dan kesadaran masyarakat terhadap program.
Dalam forum ini,lima kota ditetapkan sebagai sasaran strategis TCI, sekaligus dirumuskan rekomendasi komprehensif dari tim pendamping nasional untuk memastikan pelaksanaan program berjalan lebih lancar dan terarah.
Keseluruhan rencana dan implementasi TCI merupakan strategi terstruktur dalam menguatkan program KB/KR melalui sistem yang sudah ada di tiap pemerintah kota, namun dampaknya melampaui penguatan program sesaat. Diharapkan model ini nantinya dapat direplikasi dan diadaptasi di wilayah kota-kota lain di Indonesia yang membutuhkan.