Beranda

Story

Dibalik Tren Matcha: Ancaman Diabetes di Kalangan Muda

Dibalik Tren Matcha: Ancaman Diabetes di Kalangan Muda

Beranda

Story

Dibalik Tren Matcha: Ancaman Diabetes di Kalangan Muda

Dibalik Tren Matcha: Ancaman Diabetes di Kalangan Muda

Linimasa media sosial dipenuhi dengan tren makanan dan minuman yang dibalut serba matcha. Fenomena ‘matcha era’ telah menjadi simbol gaya hidup generasi muda, di mana segelas matcha latte bukan hanya sebuah minuman, melainkan penanda status pergaulan. Awalnya, popularitas matcha meningkat secara global pada tahun 2024–2025 yang didorong oleh viralnya di media sosial TikTok oleh para influencer, ditandai pula dengan lonjakan pariwisata ke Jepang sebagai pusat matcha.

Matcha atau teh hijau bubuk khas Jepang sendiri merupakan salah satu superfood. Dalam 2 sendok teh bubuk matcha terdapat 14 kalori dan nutrisi kalium, zat besi, serat, dan antioksidan yang tinggi, bahkan tiga kali lebih banyak daripada teh hijau biasa. Namun, di balik itu, tersimpan paradoks kesehatan yang mengkhawatirkan.

Realitanya, kebanyakan minuman matcha yang beredar dikonsumsi anak muda saat ini bukanlah seduhan asli teh hijau murni, melainkan racikan tinggi kalori dengan dominasi sirup gula, susu kental manis, dan topping tambahan. Konsumsi ‘buruk’ ini telah membentuk gaya hidup yang bergantung pada gula cair yang berbahaya. Jika tren ini dibiarkan tanpa kesadaran akan batasan dalam konsumsi, maka tren ‘budaya gaul dalam tongkrongan’ ini menjadi perantara meningkatnya penderita diabetes di usia dini.

Daya Tarik Matcha dalam Gaya Hidup

Popularitas matcha tidak tumbuh secara organik karena rasanya saja, melainkan didorong oleh estetika visual di platform seperti Instagram dan TikTok. Segelas hijau matcha dianggap menjadi konten yang ‘instagrammable’, memberikan validasi sosial bagi pengunggahnya.

Selain dari tampilannya yang estetik, terdapat efek psikologis dari matcha karena mengandung L-theanine untuk meningkatkan rasa rileks dan tenang. Hal inilah yang diincar oleh para mahasiswa maupun pekerja untuk menunjang produktivitas mereka, karena mengundang sensasi fokus yang tenang dan tidak mendebarkan jantung bak kopi.

Namun, daya tarik ini telah membentuk pola gaya hidup yang adiksi terhadap matcha. Ketika dikonsumsi sebagai ‘self reward’ atau termasuk dalam aktivitas ketika bekerja, otak akan mengasosiasikan minuman manis ini dengan rasa bahagia. Tanpa disadari, anak muda tidak lagi mencari antioksidan dari teh, melainkan ‘sugar craving’ dari kombinasi matcha dengan sirup atau gula tambahan yang meningkatkan dopamin.

Konsumen juga terkadang menganggap minum matcha sebagai hal yang menyehatkan. Padahal, minuman dari gerai kekinian memiliki kandungan standar yang rendah dari kesehatan, seperti bubuk matcha yang telah dicampur dengan gula pasir dan krimer. Belum lagi menambahkan susu kental manis dan sirup perisa untuk membuat creamy, tentunya, tambahan tersebut dimasukkan dengan jumlah yang tidak sedikit.

Apabila melihat pada satu porsi minuman matcha latte komersial ukuran 500 ml atau setara dengan satu botol air mineral kecil, gulanya mengandung sekitar 30 gram. Sebagai perbandingan, WHO telah merekomendasikan batas konsumsi gula tambahan tidak lebih dari 50 gram per hari. Artinya, hanya dengan meminum satu gelas matcha kekinian, seorang anak muda sudah menghabiskan hampir 60% kuota gula harian mereka. Tentunya hal ini sangat berisiko pada tubuh, dapat menimbulkan diabetes.

Risiko Kesehatan dalam Segelas Matcha

Ketergantungan pada matcha manis yang dikonsumsi secara terus-menerus dalam jangka panjang tentunya memicu malapetaka di dalam tubuh. Di mana akan memunculkan fenomena resistensi insulin. Apabila tubuh terus-menerus dimasukkan oleh lonjakan glukosa dari gula cair setiap hari, pankreas dipaksa bekerja secara ekstra keras untuk memproduksi hormon insulin guna menormalkan kadar gula darah. Seiring waktu, sel-sel di dalam tubuh menjadi kurang responsif dan tidak sensitif terhadap insulin. Akibatnya, gula tetap mengalir dalam darah dan tidak dapat diubah menjadi energi, dan akhirnya menjadi diabetes melitus tipe 2.

Tampaknya, tren matcha manis ini pun telah mendorong tren medis, yakni diabetes yang semakin dini. Jika dulu diabetes tipe 2 dianggap sebagai penyakit orang tua yang menyerang usia 40 tahun ke atas. Namun kini, klinik kesehatan mulai sering menemui pasien yang berusia 20-an dengan kondisi pra diabetes.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada tahun 2003 terdapat sekitar 29,1 juta penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun yang telah menderita diabetes melitus (DM), dan diperkirakan pada tahun 2030 meningkat menjadi sekitar 41,9 juta orang.

Terlebih, gaya hidup ‘minuman manis’ ini telah mempercepatkan dan memperbanyak kalangan anak muda yang terkena DM. Bak bom waktu, generasi muda sangat berisiko terkena komplikasi jangka panjang pada kerusakan saraf dan gangguan fungsi ginjal sebelum mencapai usia produktifnya.

Minum matcha sebenarnya tidak masalah, selama tidak berlebihan dan tetap mengontrol kadar gula yang ditambahkan atau buat less sugar. Kuncinya ada pada porsi dan komposisinya.

Jadi, apakah kamu termasuk yang mengikuti tren matcha ini? Atau mulai berhenti dari minuman manis ini?

Referensi

Share: