Di Jakarta—kota yang bergerak cepat dengan segala dinamika urban—rokok bukan lagi sekadar produk, tetapi telah menjadi bagian dari keseharian remaja. Survey dasar Jalin Foundation menunjukkan sekitar 12% remaja adalah perokok aktif dan 27% lainnya pernah mencoba rokok. Angka ini lebih tinggi di kalangan siswa SMK dan MA.
Bagi banyak remaja, rokok hadir bukan karena pilihan yang sepenuhnya sadar, tetapi karena lingkungan yang membentuknya—dari paparan iklan digital hingga tekanan pertemanan. Untuk itulah Generasi RAW hadir bagi remaja laki-laki Jakarta sebagai wadah untuk saling membangun dalam mencapai tujuan atau upgrade diri. Generasi RAW mendorong remaja untuk berani ambil sikap terhadap pilihannya di tengah tekanan pertemanannya.
Dari “Dilarang” Menjadi “Didengarkan”
Melihat kompleksitas masalah ini, Jalin Foundation bersama PKBI Bali memilih pendekatan yang tidak biasa: Human Centered Design (HCD) dengan prinsip youth first.
Alih-alih merancang program untuk remaja, mereka mengajak remaja merancangnya sendiri.
“Kami percaya solusi yang paling relevan datang dari mereka yang mengalami langsung,” ujar perwakilan Jalin Foundation. “Remaja bukan objek perubahan; mereka adalah aktor utamanya.”
Pendekatan ini mengubah dinamika secara drastis. Remaja tidak lagi duduk sebagai audiens, tetapi berdiri sebagai pencipta ide.
Menggali Cerita, Bukan Menghakimi
Tahap pertama HCD dimulai dengan insight workshop yang bertujuan untuk merefleksikan kembali perjalanan Generasi RAW pada tahun sebelumnya dan memetakan pertanyaan kunci untuk tahap Generasi RAW selanjutnya, yaitu pelibatan remaja.
Tahap berikutnya adalah co-design workshop, yang berlangsung selama tiga hari (13–15 Februari 2026), melibatkan 25 remaja laki-laki Jakarta dari berbagai latar belakang—perokok aktif, mantan perokok, hingga yang tidak pernah merokok.
Diskusi berkembang dari hal-hal sederhana menjadi refleksi yang lebih dalam. Proses diskusi kemudian menjadi lebih dinamis. Mereka berdiskusi, berdebat, tertawa, bahkan berbeda pendapat. Namun, dari situ, ide-ide mulai terbentuk.
Dari Ide ke Aksi
Di akhir sesi, ide-ide tersebut tidak berhenti sebagai wacana. Para peserta mulai membuat prototipe sederhana, mulai dari sketsa kampanye visual, konsep konten media sosial, hingga gagasan komunitas.

Mereka lalu mempresentasikan hasilnya, menerima masukan, dan menyempurnakan ide.
“Seru sih, karena kita ngerasa didengerin,” kata Gathan (16), “Biasanya kan orang dewasa yang nentuin semuanya.”
Sementara itu, fasilitator melihat perubahan yang lebih dalam.
“Yang paling penting bukan hanya ide yang dihasilkan,” ujar tim Jalin Foundation, “tapi bagaimana mereka mulai menyadari bahwa mereka punya kontrol atas pilihan hidup mereka.”
Lebih dari Sekadar Kampanye
Program ini bukan hanya tentang menekan angka perokok remaja. Lebih dari itu, ini adalah tentang membangun kesadaran kolektif. Tentang bagaimana remaja saling mendukung. Tentang bagaimana mereka berani mengatakan “tidak” tanpa merasa kehilangan identitas sosial.
Sebuah Awal
Perubahan perilaku tidak terjadi dalam semalam. Namun, melalui pendekatan yang menempatkan remaja di pusat proses, langkah kecil mulai terbentuk.
Dari ruang diskusi sederhana itu, lahir bukan hanya ide kampanye, tetapi juga perspektif baru.
Bahwa melawan tembakau tidak harus dimulai dari larangan. Kadang cukup dengan mendengarkan.
Referensi
Jalin Foundation. 2024. Laporan Survei Tembakau di Jakarta.Jakarta: Jalin Foundation.