Home

Story

Di Balik Tren Rokok: Silent Killer Untuk Gen Z

Di Balik Tren Rokok: Silent Killer Untuk Gen Z

Home

Story

Di Balik Tren Rokok: Silent Killer Untuk Gen Z

Di Balik Tren Rokok: Silent Killer Untuk Gen Z

Bayangkan mengonsumsi sebuah produk yang secara resmi diketahui bisa membunuh setengah dari para konsumennya. Aneh rasanya kalau barang seperti itu dijual bebas, kan? Tapi nyatanya, produk itu justru dipajang di warung-warung kelontong, berdampingan dengan permen dan kerupuk. 

Bisa dibeli satuan pakai uang jajan, dan iklannya berseliweran di jalan sampai ke etalase warung, walaupun terdapat tanda warning bagi yang mengonsumsinya. Kedengarannya seperti cerita fiksi, padahal ini kenyataan yang dihadapi anak muda di Indonesia. 

Bagi sebagian remaja hari ini, rokok bukan lagi sekadar ikut-ikutan gaya atau alasan “nggak enak kalau ngga ngerokok (asem)”. Ia berubah menjadi silent killer yang mulai mencengkram sejak usia masih belia.

Sementara banyak negara sudah mengetatkan aturan, di Indonesia remaja masih bisa membeli rokok batangan tanpa ditanya umur atau identitas. Perlahan, tanpa mereka sadari, tubuh mereka mulai rusak, sementara industri rokok justru meraih untung besar dari masa depan generasi muda yang terbakar bersama tiap hisapan.

Asap Rokok Menjerat Generasi Z 

Data Jalin Foundation bersama Udayana CENTRAL, di Jakarta misalnya, menunjukkan bahwa jumlah perokok aktif di kalangan remaja sebesar 11,56 persen dan 27,16 persen pernah merokok. Di mana yang terbesar berada di SMK 27,44 persen dan diikuti oleh SMA/MA sebesar 21,11 persen. 

Secara nasional, kelompok anak dan remaja mengalami kenaikan paling besar. Pada usia 15–19 tahun, kenaikannya mencapai sekitar 56,5 persen, sementara kelompok 10–14 tahun naik hingga 18,4 persen. Padahal, ini masa paling penting untuk belajar, berkembang, dan membangun kebiasaan sehat. Tetapi, malah terjerat oleh asap-asap kebiasaan merokok (Kemkes, 2024).

Fenomena kepulan asap dalam ‘tongkrongan’ itu, tampaknya tidak terlepas dari gencarnya pemasaran industri rokok. Influencer, gamer, musisi, hingga atlet memainkan peran penting dalam promosi rokok karena membentuk citra dan aspirasi yang dapat mendorong perilaku merokok. Paparan ini semakin kuat karena remaja mengakses platform media sosial seperti Instagram, YouTube, dan TikTok secara rutin, terutama setelah pulang sekolah (Jalin Foundation & Udayana CENTRAL). 

source: Freepik

Tidak berhenti di situ, industri rokok juga kerap hadir sebagai sponsor dalam berbagai festival musik dan olahraga yang di mana pesertanya banyak anak muda.  

Selain itu, harga yang relatif murah banyak anak muda merasa mudah untuk membelinya. Rata-rata harga rokok di Indonesia berada di angka sekitar Rp 44.485 per bungkus, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata harga rokok dunia yang mencapai sekitar Rp 89.900 (Rohman, 2024). 

Apabila kalau membeli eceran di warung, harganya hanya sekitar Rp 1.000 sampai Rp 2.500 per batang. Dengan uang jajan sisa pun, anak muda sudah bisa mendapatkan rokok. Temuan CISDI (2023) menunjukkan bahwa penjualan rokok eceran membuat para siswa sekolah semakin mudah membeli rokok. Bahkan, banyak diantara mereka yang patungan bersama teman-temannya agar bisa membeli rokok. 

Selanjutnya, hadirnya berbagai varian rasa pada rokok membuat banyak anak muda semakin penasaran untuk mencobanya. Menurut Mouhamad Bigwanto, Ketua Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (RUKKI), tambahan rasa ini membuat rokok terasa lebih ‘ramah’ bagi remaja karena memberi sensasi yang berbeda dan lebih menyenangkan, sekaligus menutupi rasa pahit dan aroma kuat dari tembakau (Tempo, 2024).

Dibalik Hisapan Terdapat Ancaman Kesehatan

Dilansir dari Alodokter, kecanduan rokok punya dampak serius buat tubuh, karena di dalamnya terdapat zat-zat berbahaya yang terkandung seperti nikotin, tar, formaldehida, benzena, dan nitrosamin. Nikotin misalnya, bisa mengganggu fokus pembelajaran. Akibatnya, nilai gampang turun, dan beberap siswa jadi makin malas masuk sekolah karena lingkungana pergaulan yang mendukung kebiasaan merokok. 

Pada tubuh rokok bikin pembuluh darah menyempit. Hal itu membuat aliran darah dan oksigen ke otot dan tulang tidak lancar. Dampaknya, remaja lebih cepat capek saat olahraga, sering pegal-pegal, dan dalam jangka panjang, kepadatan tulang bisa menurun sehingga risiko patah tulang makin tinggi. 

Di paru-paru, nikotin dan tar pun memicu peradangan dan merusak jaringan. Pertukaran oksigen jadi tidak maksimal. Biasanya ditandai dengan banyak lendir, batuk yang terus-menerus, dan napas pendek atau sesak. 

Di mulut, rokok mengubah warna gigi jadi kuning, bikin plak menumpuk, memunculkan bau mulut, dan meningkatkan risiko penyakit gusi. Kalau kebiasaan ini dibiarkan, gigi bisa tanggal atau muncul infeksi gusi yang lebih parah. 

Risiko paling serius datang dari penyakit jantung dan kanker. Rokok membuat jantung bekerja lebih cepat dan pembuluh darah makin sempit, sehingga risiko serangan jantung dan stroke meningkat. Zat karsinogenik dalam rokok juga merusak sel tubuh secara terus-menerus hingga akhirnya bisa berkembang menjadi kanker, terutama di paru-paru, mulut, dan tenggorokan. 

Sebagai penutup, jelas bahwa sebatang rokok membawa dampak buruk jangka panjang bagi tubuh. Tren merokok di kalangan anak muda tumbuh bukan tanpa sebab, harganya murah, promosi ada di mana-mana, dan varian rasanya makin beragam. Kombinasi inilah yang membuat rokok menjadi silent killer yang bekerja perlahan sejak usia remaja. 

Karena itu, penting bagi kita saling mengingatkan sesama anak muda untuk berhenti merokok. Suarakan, ajak teman, dan pilih langkah yang lebih sehat, untuk diri sendiri dan masa depan kita. 

Referensi

Alodokter. 2025. 6 Dampak Merokok bagi Remaja yang perlu diketahui. https://www.alodokter.com/6-dampak-merokok-bagi-remaja-yang-perlu-diketahui 

Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI). 2023. Hubungan Pembelian Rokok Eceran dengan Frekuensi, Intensitas, dan Inisiasi Merokok di Kalangan Remaja: Sebuah Studi Metode Campuran di Indonesia. Jakarta: CISDI 

Jalin Foundation & Udayana CENTRAL. 2024. Report Jakarta Tobacco Survey. Jakarta: Jalin Foundation  

Kemkes. 2024. Perokok Aktif di Indonesia Tembus 70 juta orang, Mayoritas Anak Muda. https://kemkes.go.id/id/perokok-aktif-di-indonesia-tembus-70-juta-orang-mayoritas-anak-muda 

Rohman, C. 2024. Harga rokok yang murah akibatkan tingginya minat rokok di Indonesia. https://jatim.antaranews.com/berita/824395/harga-rokok-yang-murah-akibatkan-tingginya-minat-rokok-di-indonesia 

Tempo. 2024. Remaja Semakin Rentan dikepung Iklan Rokok Varian Rasa. https://www.tempo.co/gaya-hidup/remaja-semakin-rentan-dikepung-iklan-rokok-varian-rasa-379730    

Share: