Perempuan punya kemampuan istimewa: mengandung, melahirkan merawat kehidupan. Tapi di balik kekuatan itu, ada risiko kesehatan yang sering kali luput disadari, salah satunya kanker serviks.
Di Indonesia, kanker serviks masih menjadi musuh besar bagi perempuan. Setiap tahunnya, sekitar 36.000 kasus baru muncul, dan yang lebih mengkhawatirkan, 70 persen baru terdeteksi ketika sudah stadium lanjut. Artinya, banyak perempuan datang ketika penyakitnya sudah terlambat dicegah (Kemenkes, 2018).
Mengapa ini terjadi?
Bukan karena perempuan tidak peduli. Tapi karena kesadaran pemeriksaan dini masih rendah. Hanya 7 persen perempuan usia 30-50 tahun yang pernah menjalani skrining, Banyak yang takut, malu atau tidak tahu harus mulai dari mana (Tjokroprawiro, 2024). Namun, cerita itu perlahan mulai berubah berkat sebuah inisiatif bernama I-BISA.
I-BISA Hadir Sebagai Upaya Dini Mengatasi Kanker Serviks
I-BISA adalah program tes mandiri untuk mendeteksi DNA human papillomavirus (HPV), yaitu virus yang dapat memicu kanker serviks. Program ini dijalankan oleh Jalin Foundation bersama Kementerian Kesehatan RI, RS Dharmais, dan BD (Becton Dickinson) untuk memperluas akses skrining di beberapa daerah, seperti Jakarta Barat (12 Kelurahan), Depok (8 Kelurahan), dan Lebak (7 Desa).

Inisiatif ini mendukung Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Serviks, di mana Kemenkes menargetkan 75 persen perempuan berusia 30–69 tahun menjalani tes DNA HPV sebagai langkah pencegahan.
Dalam periode 12 Agustus–5 November 2025, sudah lebih dari 5.500 perempuan di tiga wilayah tersebut mengikuti skrining. Pelaksanaanya dibantu oleh 120 kader kesehatan perempuan, dinas kesehatan, dan tokoh masyarakat setempat yang memberikan edukasi, pelatihan, dan pendampingan mengenai cara melakukan tes mandiri dan pentingnya skrining. Namun, angka ini bukan hanya statistik. Di baliknya ada cerita, ada wajah-wajah perempuan yang datang dengan harapan.
Rivi, seorang field researcher yang setiap hari bertemu perempuan dengan berbagai kisah. Ia bercerita ada ibu yang datang sambil menggenggam tangan temannya, ada yang tertawa gugup, ada yang bertanya berkali-kali apakah sakit atau tidak. Dan semuanya valid.
“Setiap ibu yang datang punya karakter tersendiri, ada yang panik, bahagia, sampai takut. Jadi kita harus bisa menghadapinya dengan macam-macam strategi supaya mereka nggak takut untuk ikut skrining” ujar Rivi.
Salah satu dari mereka adalah Ibu Nurhayati dari Kota Bambu Utara. Awalnya, ia ragu. Tes mandiri terasa asing, dan kata “HPV” saja sudah membuat banyak orang tegang. Namun setelah kader kesehatan menjelaskan cara kerjanya, keraguannya berubah menjadi keberanian.
“Awalnya ragu juga dengan tes ini, tapi setelah dijelaskan bagaimana cara skriningnya saya jadi tergerak untuk ikut,” tuturnya.
Sementara itu, secara hasil, tes DNA HPV mandiri juga terbukti sangat akurat. Sensitivitasnya mencapai sekitar 96,2 persen, dan tingkat ketepatannya hampir sama dengan sampel yang diambil langsung oleh tenaga kesehatan (Duan et al, 2025).
WHO juga mencatat bahwa penggunaan tes mandiri bisa meningkatkan jumlah perempuan yang bersedia melakukan skrining, karena prosesnya lebih nyaman dan tidak membuat canggung. Selain itu, metode tes mandiri juga dapat menjangkau target global, yaitu mencapai 70 persen cakupan skrining pada 2030 (WHO, 2022).
Dengan demikian, pelatihan, edukasi, dan komunikasi antar pribadi dengan warga membuat semakin banyak perempuan merasa nyaman dan bersedia melakukan skrining mandiri. Respon positif dari tiga wilayah itu menunjukkan bahwa metode ini bisa memperluas jangkauan pemeriksaan.
Pada akhirnya, kegiatan seperti ini perlu diperluas agar semakin banyak perempuan bisa mencegah dan terhindar dari kanker serviks dan mencapai target Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Serviks oleh Kemenkes. Sebab mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.
Jadi, sudah pernah coba tes mandiri DNA HPV? Kalau belum, yuk mulai periksa diri dari sekarang!
Referensi
Duan, R., Yang, H., Zhai, X., Yu, J. 2025. Accuracy and Acceptability of Self Sampling HPV Testing in Cervical Cancer screening: a population-based study in rural Yunnan, China. Scientific Reports: Nature portfolio
Pusdatin Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2018. Cancer Situation. Infodatin 31 (2) : 5 -5
Tjokroprawiro, B., Novitasari, K., Saraswati, W., Yuliati, I., Ulhaq, R., & Sulistya, H. 2024. The challenging journey of cervical cancer diagnosis and treatment at the second-largest hospital in Indonesia. Gynecologic Oncology Reports, 51.
WHO. 2022. Human papillomavirus (HPV) self-sampling as part of cervical cancer screening and treatment. WHO and HRP research for impact