{"id":4910,"date":"2026-05-21T02:36:33","date_gmt":"2026-05-21T02:36:33","guid":{"rendered":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/?p=4910"},"modified":"2026-05-21T02:38:12","modified_gmt":"2026-05-21T02:38:12","slug":"nicotine-and-young-people-what-starts-as-just-trying-can-become-a-trap","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/id\/nicotine-and-young-people-what-starts-as-just-trying-can-become-a-trap\/","title":{"rendered":"Nikotin dan Anak Muda: Awal \u201cCoba-Coba\u201d Malah Terperangkap"},"content":{"rendered":"<h2 class=\"wp-block-heading\"><\/h2>\n\n\n\n<p>Bagi sebagian anak muda, hal-hal baru sering terasa seperti tantangan yang menarik untuk dicoba. Rasa penasaran inilah yang membuat rokok atau vape perlahan masuk ke dalam kehidupan mereka. Mulai dari ikut-ikutan teman, sekadar teman nongkrong, atau ingin tahu rasanya. Awalnya mungkin hanya satu-dua kali \u201ccoba-coba\u201d. Namun tidak disadari, kebiasaan itu malah menjadi terperangkap di lingkup asap. Padahal, di balik asap itu, ada satu zat yang menjadi aktor utama dari semua ini, yakni nikotin.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Nikotin Si Pembuat Candu<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Nikotin adalah zat kimia yang secara alami ada di dalam tanaman tembakau. Kini keberadaannya tidak hanya ada di rokok biasa, melainkan merambah di dalam rokok elektrik. Nikotin sendiri merupakan zat adiksi yang apabila orang mengkonsumsinya akan terus \u201cingin lagi dan lagi\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Membahayakan bukan? Karena jika zat tersebut sudah masuk ke dalam tubuh, sepersekian detik sampai ke dalam otak. Otomatis otak akan melepaskan hormon kebahagiaan (dopamin), menciptakan tubuh menjadi rileks, senang, dan semangat. Keadaan ini lah yang dicari oleh para perokok aktif untuk mendapatkan rasa fokus setelah merokok.<\/p>\n\n\n\n<p>Terkadang yang luput dibicarakan adalah nikotin tersebut dapat masuk ke dalam kehidupan anak muda melalui berbagai jalur. Mulai dari iklan rokok termasuk berbagai bentuk dan warna rokok elektrik yang mengundang untuk dibeli, konten media sosial yang terus menggembar-gemborkan hal itu wajar, dan budaya pertemanan yang melazimkan rokok adalah hal yang \u2018biasa\u2019 dikonsumsi. Bahkan hingga vape yang sering dipersepsikan lebih aman, padahal tetap mengandung nikotin dan belum tentu aman bagi tubuh.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Bahaya Bagi Keterusan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Masalahnya, nikotin hanya bertahan di dalam tubuh selama 6\u20138 jam setelah merokok. Ketika kadarnya menurun dalam tubuh, otak akan meminta secara terus-menerus untuk mendapatkan sensasi yang sama. Inilah yang membuat seseorang terus mengulang kebiasaan merokok dengan alasan \u201casem\u201d apalagi setelah makan.<\/p>\n\n\n\n<p>Apabila tidak berhenti dan dikonsumsi secara terus-menerus, zat ini mengakibatkan sesak napas, pingsan, kejang, bahkan gagal napas. Parahnya, zat ini menimbulkan penyempitan pembuluh darah, akibatnya oksigen, aliran darah, dan nutrisi akan terhambat. Namun, untuk berhenti secara tiba-tiba, seseorang akan merasakan gejala putus nikotin yang menimbulkan rasa cemas, tidak bisa tidur, susah konsentrasi, sakit kepala, dan batuk.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam usia anak muda yang produktif, menurut Organisasi Kesehatan dunia, apabila sudah terpapar nikotin akan merusak otak hingga usia 25 tahun. Sebab otak dalam fase perkembangan yang cenderung sensitif terhadap zat adiksi. Akibatnya, akan sulit lepas dari kebiasaan merokok.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, nikotin dikonsumsi secara jangka panjang akan mengundang penyakit gigi dan mulut, paru, kardiovaskular (jantung koroner, hipertensi, dan stroke), kemandulan, kanker, kelahiran yang prematur, hingga mudah akan terkena penyakit dan sulit dalam proses penyembuhan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Mencegah dari Sekarang, Sebelum Terperangkap<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menjaga jarak pada nikotin adalah bentuk investasi kesehatan bagi diri sendiri, bukan hal yang mengekang kebebasan. Karena usia muda sudah seharusnya membangun kesehatan yang baik untuk usia ke depan, mengejar mimpi dan cita-cita, serta persiapan di masa depan, bukan terperangkap dalam kebiasaan yang \u2018jelek\u2019 untuk merusak tubuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Walaupun keputusan di tangan masing-masing karena rasa penasaran, melihat bahaya, cara kerjanya, dan sulitnya terlepas karena coba-coba nikotin di dalam rokok, mending jadi pertimbangan diri deh untuk mencoba rokok.<\/p>\n\n\n\n<p>Daripada menurunkan rasa penasaran pada rokok, lebih baik arahkan ke hal-hal yang bermanfaat seperti menggerakkan tubuh dalam berolahraga, jalan santai, mediasi, atau beryoga. Bisa juga mencoba pola makan Meatless Monday apabila ingin menantang diri dengan memperbanyak sayur dan buah-buahan pada hari senin di tiap minggunya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, carilah dukungan dari keluarga, kerabat, dan teman agar dapat terhindar dari nikotin. Namun, apabila mengalami kesulitan dapat berkonsultasi lebih lanjut dengan dokter agar mendapatkan saran cara mencegah dan berhenti dalam merokok menyesuaikan dalam kondisinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kembali, kesehatan menjadi tanggung jawab diri sendiri, tinggal kita mengarahkannya ke arah mana, apakah hanya akan mendapatkan kesenangan sesaat seperti merokok yang berujung penumpukkan penyakit di dalam tubuh, atau menjadi sehat hingga usia nanti dengan hidup yang lebih baik.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Referensi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Alodokter. (2024).\u00a0<em>Nicotine, Its Dangers to the Body and How to Overcome Them.<\/em><\/li>\n<\/ul>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>For many young people, trying new things can feel exciting and tempting. Curiosity is often what slowly introduces cigarettes or vapes into their lives. It may begin by following friends, hanging out socially, or simply wanting to know what it feels like. At first, it might only happen once or twice \u201cjust to try.\u201d But [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":4911,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_acf_changed":false,"footnotes":""},"categories":[36],"tags":[],"program":[],"tahun":[],"class_list":["post-4910","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-story"],"acf":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4910","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4910"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4910\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4913,"href":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4910\/revisions\/4913"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4911"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4910"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4910"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4910"},{"taxonomy":"program","embeddable":true,"href":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/program?post=4910"},{"taxonomy":"tahun","embeddable":true,"href":"https:\/\/jalinfoundation.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tahun?post=4910"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}